Tak Selamanya Mimpi itu Indah

By : Dreamer Girl

Pernahkah kamu merasakan bahwa dunia ini tak lagi pantas untukmu? Pernakah kamu merasakan bahwa dunia ini bukanlah duniamu? Pernahkah kamu menginginkan dunia lain meskipun itu tak nyata?. Jika semua jawaban atas pertanyaanku tadi adalah iya, maka kamu sepaham denganku.

Aku adalah seorang gadis yang jalan hidupku elastis. Aku bisa menjadi apapun yang aku mau. Aku bisa menjadi seorang putri yang cantik jelita, atau menjadi si buruk rupa. Aku bisa menjadi seorang milyader yang kaya raya, atau menjadi si miskin. Aku bisa menjadi gadis idaman lelaki, atau sicupu yang sama sekali nggak menarik dimata lelaki. Aku bisa menjadi seorang yang sempurna, atau menjadi si cacat.Begitu elastisnya jalan hidupku hingga aku sendiripun bisa menentukannya.

Mungkin kalian mengira bahwa semua penuturanku adalah bualan belaka. Tapi jujur itulah yang terjadi pada hidupku. Pada jalan takdirku. Karena duniaku bukanlah duniamu. Duniaku adalah dunia mimpi. Dunia dimana semua halnya kamu yang mengatur. Kamu berkehandak sebagai Tuhan. Meski bukan dalam arti yang sebenarnya.

Semua hal yang aku inginkan bisa aku dapatkan disini. Di duniaku. Meskipun itu hanya imanjinasi belaka, hanya khayalan yang tak nyata. Tapi aku senang karena bisa memiliki semua yang aku mau. Apapun itu, tanpa terkecuali.

Aku menghabiskan banyak waktu berharga dalam hidupku hanya untuk bermimpi. Aku lebih senang menjalani kehidupanku yang elastis di dunia mimpi dibandingkan dengan menjalani kehidupanku di dunia nyata. Dunia yang menganggap aku sama sekali tak berarti.

Bayangkan saja didunia nyata aku adalah seorang gadis yang buruk rupa, cupu, nggak menarik, dan CACAT. Begitu tidak berartinya diriku di mata Tuhan hingga Tuhan menciptakan diriku seperti ini, penuh dengan kekurangan.

Semua hal itu membuatku hanya hidup di dunia mimpi. Karena disana aku adalah seorang putri yang cantik jelita, kaya raya, idaman lelaki, dan sempurna. Menarik bukan? Jelas sekali perbedaan antara kehidupan dunia mimpiku dan dunia nyataku. Satu hal lagi yang membuatku hanya dapat hidup di dunia mimpi, yaitu kenyataan bahwa aku cacat. Aku cacat. Aku cacat.

Aku tertunduk sedih mengingat kenyataan pahit yang menimpaku, sungguh bertubi-tubi. Aku menangis dalam sepi, mulai bermimpi di tengah kamar ini. Bermimpi bahwa aku adalah seorang putri yang cantik jelita, kaya raya, idaman lelaki, dan sempurna. Tapi semua kenyatan itu membuat semua impianku mulai goyah. Aku memejamkan mataku lebih keras agar semua kenyatan pahit itu segera hilang. Tapi dia tetap bersarang di otakku.

Ingin rasanya mulut ini berteriak sekencang-kencangnya tapi kecacatan ini menghadang. Ingin rasanya kaki ini berlari dengan kencang mengelilingi bumi, tapi lagi-lagi kecacatan ini menghadang. Aku tak dapat berbuat apa-apa. Hanya duduk diatas kursi roda tua di tengah kamar yang pengap dan gelap. Setetes, dua tetes, air mata mengalir. Tanpa ada yang menghapusnya. Aku ingin menangis. Dan terus menangis, hingga air mata ini tak tersisa lagi agar semua kesedihan ini segera hilang.

Kreeekk. Bunyi kayu tua yang bersentuhan dengan lantai kamarku. Sesosok manusia datang menghampiriku.

“ Dewi, kamu kenapa sayang? Kenapa kamu nangis?” tanya Ibuku perlahan, seakan lupa tentang kecacatanku.

Percuma Bu menannyaiku karena aku nggak akan pernah bisa mengatakan jawabannnya. Jawabku dihatiku. Karena menghormati Ibuku aku menjawabnya meskipun hanya sebatas gelengan kepala yang mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja.

Seakan kecewa dengan responku yang biasa saja. Bahkan cenderung dingin. Ibuku menyerah untuk tidak menannyaiku lebih jauh.

“ ya sudah kalau kamu nggak mau diganggu. Ibu hanya mau memberitahu kalau Desi sudah pulang dari Belanda. Dia kangen sama kamu,” ucap Ibuku menyampaikan berita kepadaku.

Mendengar kata Desi dari mulut Ibu aku melengos dan memutar kursi rodaku hingga membelakangi Ibu. Ibu sudah pasrah dengan sikapku dan segera meninggalkanku dikamar ini. Tak lupa sebelum Ibu pergi beliau mencium puncak kepalaku. Mengalirkan sedikit kehangatan di hatiku yang beku.

Desi dan aku adalah saudara kembar identik. Sama segala-galanya. Tapi Desi adalah seorang saudara sedarah yang tak tau diri dan tak tau malu. Hanya bisa mengambil semua yang menjadi impianku. Dan merebut semua yang telah menjadi miliku. Hal itu membuat aku dan dia sekarang bagai si Cantik dan si Buruk rupa.

Sepasang tangan lentik dan mulus menyentuh pundakku. Menghipnotisku sebentar, tapi aku segera sadar bahwa tangan itu adalah tangan perebut dan pencuri semua yang menjadi keinginanku. Aku merasakan dendam membara mulai membakar hatiku.

“Kaak, gimana nih kabarnya? Lama tak jumpa?” katannya dengan penuh keceriaan. Dia berpindah tempat menjadi tepat dihadapanku.

Ooh, tidak. Didepanku saat ini telah ada bayangan tubuh yang seharusnya jadi miliku. Putih, mulus, tinggi semampai, cantik, dan tanpa cacat. Tanpa sadar aku menatap Desi dari ujung rambut hingga ujung kaki. Begitu sempurna.

“ Kak, kakak kenapa kok natap aku kayak gitu? Apa ada yang salah dengan aku?” tanyanya dengan muka dibuat sepolos-polosnya.

What? Masih tanya kamu punya salah enggak?. Nggak nyadar siapa yang ngebuat aku jadi kayak gini? Nggak inget gimana aku bisa jadi kayak gini?. TOLOL. Semua ini gara-gara kamu bodoh. Aku jadi lumpuh, bisu, dan cacat gara-gara kamu. Gara-gara menyelamatkanmu dari kecelakaan itu. Seharusnya waktu itu aku biarkan saja kamu tertabrak mobil agar kamu nggak menjadi sainganku lagi. Bukan malah kayak gini. Aku yang cacat hanya untuk menyelamatkamu. Bodoh. Kembali aku ingin berteriak sekencang-kencangnya dan mengikrarkan bahwa aku benci padanya. Tapi suara yang aku keluarkan tak kunjung terdengar. Mukaku menjadi merah karena Aku menahan tangis dan menahan amarah mengingat kejadian waktu itu. Kejadian yang merenggut semua mimpiku.

Melihat mukaku yang merah padam dan tetesan air mata yang mengalir perlahan. Desi mulai terlihat takut kepadaku. Mukaku yang merah padam menahan amarah terlihat sangat menakutkan dimatanya ditambah dengan cacat dimukaku –bekas jahitan- membuatku makin terlihat menyeramkan. Dia mundur selangkah demi selangkah secara perlahan. Menampilkan mimik yang ketakutan. Perlahan dia berkata “ kaaak, kaa… kaak kenapa?” aku tak menggubrisnya. Dia sudah terlalu takut menghadapiku. Lalu berlari menangis keluar dari kamarku yang usang.

Aku berhasil membuatnya ketakutan. Membuatku merasakan sedikit kebahagiaan di alam nyata. Aku sedikit tersenyum.



Terekam kembali masa-masa penuh keceriaan dengan Desi di pikiranku. Masa-masa dimana belum ada sedikitpun dendam tercipta dihatiku. Belum ada sedikitpun luka yang Desi ciptakan dihatiku. Semua masih indah tanpa luka.

Dulu aku sangat menyayangi Desi. Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya aku selalu menjaganya dari apapun yang akan melukainya. Dia pun selalu menghargaiku sebagai kakaknya. Umur kami yang hanya berbeda beberapa detik membuat kami selalu klop dibidang apapun. Aku cantik, dia cantik. Aku sempurna, diapun sempurna. Bahkan kamipun mempunyai cita-cita yang sama yaitu seorang jurnalis handal yang akan mendapatkan beasiswa ke Belanda. Aku dan dia sering berkhayal akan hidup di Netherlands bersama.

Tapi ada suatu hal yang membuat semua masa-masa indah itu rusak dalam sekejap. Kecelakaan. Bermula saat aku dan dia sedang bermain bersama. Saat itu kami sudah 17 tahun. Dia menggoda ku dan berlari agar aku mengejarnya. Tapi tiba-tiba di jalan yang kamu gunakan untuk bermain melintas mobil dengan kelajuan tinggi. Dengan spontan aku mendorong Desi ke pinggir jalan agar dia tidak tertabrak mobil. Tapi naas belum sempat aku menyelamatkan diri, tubuhku sudah terhantam dengan mobil.

Aku tak sadar dengan apa yang aku alami setelahnya. Yang aku tahu, bangun-bangun aku sudah ada di Rumah sakit. Aku ingin memanggil ibuku, tapi aneh suaraku menghilang. Aku coba untuk berteriak lagi, tapi hasilnya nihil. Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Aku bisu.

Aku mencoba turun dari tempat tidurku dan berlari mencari ibuku. Tapi hal aneh lain terjadi padaku. Kakiku mati rasa. Tak dapat aku gerakan lagi. Aku mencoba menggerakannya lagi, tapi tetap kakiku tak bergerak sedikitpun. Kakiku lumpuh.

Menghadapi kenyataan itu aku menangis sejadi-jadinya. Kesempurnaanku sudah hilang. Mulut dan kakiku sudah tak dapat kugunakan lagi. Tak lama ibu dan Desi datang mereka memeluku erat. Erat sekali. Menjelaskan secara perlahan apa yang aku alami. Aku tak dapat menyerap semua yang mereka katakan hanya 2 kalimat pendek yang terserap secara jelas di otakku. Aku bisu. Aku lumpuh. Semenjak itu aku menjadi kecil hati. Tak lagi berani tampil di muka umum. Untuk bersekolahpun aku tak berani. Guru-guru secara sukarela datang ke rumahku untuk mengajarkan aku beberapa materi yang mungkin akan sulit aku mengerti.

Setelah lulus SMA aku mengirimkan CV-ku ke beberapa perusahaan yang menyediakan beasiswa seperti cita-cita ku. Desi pun juga mengirim CV ketempat yang sama denganku. Tapi mimpi itu gugur saat aku melihat pengumuman bahwa permintaan beasiswaku ditolak karena aku cacat. Dan Desi terlihat senang karena dia diterima. Dia meninggalkanku ke Belanda dengan semua kecacatan ini. Mulai dari itu timbul dendam dan kebencian yang mendominasi hatiku.



Pagi ini seperti biasa tak ada yang menarik dihatiku. Entah karena apa tiba-tiba Desi datang ke kamarku dengan penuh keceriaan seolah tak ada apa-apa yang terjadi antara aku dan dia kemarin.

“Kaak… pagi ini cerah banget lo. Jalan-jalan yuk, aku punya sesuatu buat kakak.” Ajaknya. Lalu mendorong kursi rodaku keluar kamar. Entah kenapa aku pun tak menolak.

Aku berjalan-jalan di sekitar rumahku saja. Sikapku sangat dingin padanya dalam menanggapi semua celotehannya. Dia tidak merasakan kesinisanku. Tapi lama-lama dia mulai mengerti bahwa aku sinis padanya. Aku menepis tangannya yang memegangi kursi rodaku. Dan menggerakan kursi rodaku perlahan meninggalkannya.

“Loh kak mau kemana?” tanyanya. Aku sama sekali tak menanggapi.

Dia mulai jenuh dengan sikapku yang seperti ini. Dia mengejarku dan berhenti tepat dihadapanku. Hei, mau apa orang ini. Batinku. Dia berlutut dihadapanku.

“ kak aku tahu, kakak dendam dan benci sama aku. Aku tahu kakak menyesali sikap kakak yang menyelamatkan aku waktu itu. Aku tahu kakak benci dengan semua ini. Tapi please kak jangan buat aku terus merasa bersalah karena ini. Jangan kakak kira aku nggak pernah tersiksa karena kejadian itu. Aku tersiksa kak, tersiksa karena rasa bersalahku…” dia berhenti sejenak mengambil nafas dan meneruskan perkataannya.

“… aku sedih ngeliat kakak yang nggak bisa bangkit dari semua bencana ini. Aku sedih kehilangan sosok kakak yang sangat aku sayangi. Tolong kak, ijinkan aku untuk menebus kesalahanku dengan membantu kakak mengembalikan cita-citamu. Tapi, aku nggak bisa berbuat banyak untuk membantu kakak meraih citamu lagi. Aku hanya bisa membantu dengan ini. Semoga ini berarti.” Katanya seraya menyerahkan beberapa buku yang bertemakan sama yaitu keberhasilan seorang yang cacat dalam meraih citanya. Lalu dia meninggalkanku dan berlari masuk kedalam rumah.



Aku membaca seluruh isi buku-buku itu. Dan hatiku bergetar setelah membacanya. Aku telah salah jalan. Bukan Desi yang merebut cita-citaku. Tapi aku yang melepaskan cita-citaku. Selama ini aku hanya bermimpi dan terus bermimpi tanpa pernah bangun dan mewujudkan mimpiku itu. Aku terlalu terpuruk dalam duka dan duka. Terpuruk dalam dunia mimpi yang membiusku dan melupakan dunia nyata yang sebenarnya menungguku agar segera bangkit dan mewujudkan citaku.

Kembali aku menangis. Menangisi waktu-waktu ku yang berharga hanya untuk bermimpi. Aku menyesal telah menyalahkan Tuhan akan semua hal yang terjadi padaku. Aku menyesal telah menuduh Desi –adikku tercinta- sebagai penyebab semua ini. Padahal Tuhan mengatur semua ini agar aku menjadi pribadi yang lebih kuat. Dan Desi bukanlah penyebab dari semua ini. Dia hanyalah perantara Tuhan dalam melaksanakan rencana-Nya.

Aku pergi menemui Desi di kamarnya. Dia sedang berdiri di dekat jendela. Menatap kosong ke arah luar. Mendengar suara pintu dibuka dia menatap ke arahku. Spontan aku tersenyum kearahnya. Senyum yang pertama kali ku berikan padanya sejak beberapa tahun lalu. Dia kaget melihat aku tersenyum. Aku membuka kedua tanganku lebar-lebar seakan siap untuk menerima pelukannya. Setelah sempat terbengong sebentar Desi segera berlari memelukku. Kami berdua berpelukan hangat. Pelukan yang pertama sejak beberapa tahun lalu.

“ Aku sayang kamu, dek,”

“ Aku juga sayang kamu, kak,”

Setelah kejadian itu kami kompak seperti sedia kala. Tapi sayang seminggu kemudian dia harus bertugas ke jakarta untuk mendapat tugas pertama sebagai seorang wartawati. Dan aku meneruskan cita-citaku sebagai seorang sastrawan. Setahun ini aku telah menerbitkan novelku yang laku keras dipasaran dan sekarang aku sedang menulis novel keduaku. Setelah menjadi seorang novelis aku mempunyai pengertian baru tentang dunia mimpi dan dunia nyata.

Dunia mimpi adalah dunia dimana kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau. Tapi dunia itu tak jarang akan menyisakan luka dan membuat luka lamamu semakin menganga saat kamu membuka mata dan tahu bahwa apa yang kamu impikan tidak sesuai dengan kenyataannya. Hal itu terjadi ketika kamu hanya bermimpi. Tapi apabila kamu bermimpi, lekas bangun dan segera mewujudkannya maka mimpi itu dapat menjadi tangga menuju kesuksesan. Buktinya adalah aku. Jika aku terus bermimpi tanpa pernah bangun, aku takkan bisa menjadi seperti ini. Aku tak akan menjadi berguna. Tapi aku bangun dan mewujudkan mimpiku meski penuh kekurangan. Dan aku berhasil. Maka bermimpilah dan wujudkanlah.

THE END

3 pemikiran pada “Tak Selamanya Mimpi itu Indah

  1. Ini tentang mimpi, harapan dan cita-cita. Melalui keterbatasan kita merajut mimpi menjadi kenyataan. Ada hal yg istimewa dari setiap keterbatasan, yaitu menjadikan kita kuat dan lebih berorientasi kepada kenyataan tanpa khayalan. Kita akan tersadar untuk terbangun dari gelapnya harapan, dan maju melesat seperti roket. Semoga kita diberikan yang terbaik oleh Tuhan. Anda, saya dan kita semua maju sebagai seorang yg tdk pernah takut akan keterbatasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s